Tulisan ini saya ambil dari salah satu sharing grup Bisnisnya Kang Rendy Saputra. Sengaja saya tampilkan utuh tanpa ditambahin sedikit pun. Supaya temen-yang membacanya mendapatkan pemahaman yang utuh juga. Silahkan dilahap materi dagingnya.

Alur Finansial Mazhab Moderat

oleh : Rendy Saputra

********

Saya ingin menyampaikan hal paling fundamental dalam pemahaman bisnis. Ukuran paling riil dari bisnis adalah angka-angka yang tercetak pada papan skor finansial. Maka pemahaman seorang pebisnis pada proses alur finansial merupakan pondasi utama dalam menjalankan bisnis.

Setiap pebisnis memiliki believe atau mazhab yang berbeda dalam membangun kekayaan. Kali ini, Saya ingin berbagi tentang alur finansial moderat.

Saya mengawali tulisan ini dengan disclaimer : bahwa apa yang Saya kemukakan bisa saja salah, dan Sahabat KRBN dipersilakan untuk memilih, apakah bersepakat dengan mazhab ini atau memilih mazhab yang berbeda.

***

Sebelum saya menjelaskan makna dibalik alur finansial moderat, terlebih dahulu Saya akan menceritakan alurnya.

Jika Anda ingin memulai bisnis, alangkah baiknya Anda mendedikasikan sejumlah dana yang tersimpan pada rekening yang terpisah dengan kehidupan pribadi Anda. Berapapun jumlahnya. Dana ini kita sebut dengan Modal Kerja.

Saya memahami bahwa banyak bisnis yang dapat dikerjakan tanpa modal sama sekali. Jikapun demikian, siapkan rekening terpisah agar bisnis Anda rapi sejak awal.

Modal kerja ini lalu bergerak untuk mempersiapkan produk yang dapat diperdagangkan. Jika bisnis Anda hanya menjualkan barang orang lain, maka Anda tinggal membeli dari pemasok. Jika bisnis Anda memproduksi dari awal, berarti modal kerja tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan dana operasional produksi. Jika bisnis Anda jasa, berarti modal kerja bergerak untuk mensupport hal-hal untuk menghadirkan jasa tersebut. Untuk menyederhanakannya, Saya menyebutnya dengan inventory. Walau untuk bisnis jasa, hal ini tidak sepenuhnya tepat.

Jika product bertemu dengan market yang butuh dan mampu membeli, maka terjadilah transaksi. Inilah yang biasa disebut penjualan atau sales.

Dari hasil penjualan tersebut, seharusnya kita mengembalikan kembali ongkos produksi ke modal kerja. Biaya ini biasanya disebut dengan Cost of Good Sold (CoGS) atau HPP barang terjual.

Jika Anda membeli barang seharga 8.000 dan Anda berhasil menjualnya seharga 15.000, maka 8.000 tersebut haruslah kembali ke modal kerja. Dan 7.000 rupiah sisanya akan masuk dalam kelompok laba kotor atau gross profit. Ingat ya, masih kotor.

Baca Juga:  Riset Pasar Sebelum Berbisnis, perlu gak sih?

Dari laba kotor inilah, kemudian kita membayar operasional bisnis diluar hal-hal yang terkait dengan produksi secara langsung. Misalkan beban marketing, sewa tempat, transportasi, beban listrik, hingga pajak-bunga-depresiasi jika ada.

— saya belum membahas EBITDA dan segala hal yang expert ttg financial, tulisan ini saya tujukan untuk sahabat UKM yang butuh penyederhanaan. Mohon para ahli finansial bersabar dulu. Jika tidak puas, nanti saya siapkan modul Mahir Literasi Finansial. Hehehe. Bayar tapi. —

Setelah semua operasional terbayarkan, barulah terbentuk Net Profit atau laba bersih.

Nah, dalam mazhab moderat, dari net profit inilah seharusnya pebisnis memperbesar modalnya. Modal membesar dari net. Dalam istilah finansial, disebut laba ditahan. Artinya, Anda menahan sebagian laba untuk kembali diputarkan kedalam bisnis. Makna “bercandanya” adalah Anda menahan diri untuk memakainya.

Dan sebagian kecil net profit anda dedikasikan untuk living cost Anda.

Dalam pengamatan Saya, ketika bisnis masih belum besar, living cost diambil dari net profit. Namun jika bisnis Anda sudah besar, Anda dapat mendedikasikan sejumlah gaji untuk kehidupan Anda. Yang jumlahnya Anda tentukan fix setiap bulan. Sehingga gaji Anda akan masuk pada beban operasional cost. Anda tidak lagi mengganggu net profit.

Kembali ke modal kerja. Jika modal kerja terus membesar secara perlahan, maka disanalah bisnis Anda akan membesar dan kokoh.

***

Tafsiran dari pemaparan diatas :

1. Pisahkan bisnis dan pribadi.
Jika tidak bisa ukur, kita tidak akan bisa atur. Maka pengukuran dalam bisnis adalah hal yang substantif. Gak bisa sembarangan.

Bagaimana kita mau mengukur bisnis, jika dana yang kita punya bercampur dengan kehidupan pribadi. Maka kita akan sulit membedakan antara biaya yang terbeban pada bisnis dengan biaya yang terbeban pada kehidupan pribadi. Runyam.

2. Proses penjualan adalah kunci tenaga aliran. Alur finansial tergerak ketika terjadi transaksi. Maka, sehebat apapun inventory dan sebanyak apapun modal Anda, hal itu tidak akan pernah menggerakkan roda bisnis Anda.

Baca Juga:  The Distance Between Dream And Reality

Maka penting sekali Jago Jualan, Mahir copywriting, hehehe.. #uhuk

3. Jangan cepat-cepat happy dengan Gross Profit.
Saya sering menemukan pebisnis yang cepat berpuas dengan selisih transaksi dalam perdagangan jual-beli. Beli 5.000, jual 20.000, happy! Selisih 15.000, tapi ternyata cost operasional 50.000. Ini ilusi.

Maka perhatikan cost yang terjadi. Sekedar bensin, sekedar biaya parkir, sekedar lampu, jika kita bisa lakukan efisiensi, maka lakukanlah efisiensi. Tekan cost yang tidak perlu.

Banyak yang jago cetak gross tapi lalai di expenses. Kadang net profitnya suka gak ada. Maaf jangan tersinggung.

4. Hidup menabung modal, lamban tapi kokoh.
Konsep alur ini belum atau tidak melibatkan financing dari pihak lain. Maka alur bisnis tidak terbebani bunga dan cicilan yang fix. Jika pasar melamban atau roda melambat, alur finansial moderat relatif dapat bertahan. Mengapa dapat bertahan? Karena modal yang berputar adalah milik sendiri. Setrooonggg.

Logikanya ayam kampung dan ayang potong. Ayam kampung gedenya lama tapi kuat, ayam potong gedenya cepet tapi rapuh.

5. Kebutuhan personal jangan sampai menghambat laju pertumbuhan modal.

Bayangkan jika setiap ada net, Anda terus ambil. Maka modal tidak akan pernah membesar. Apalagi, jika baru sampai gross profit Anda langsung ambil. Maka putaran bisnis akan sangat berat.

***

Pertanyaan yang sering muncul dari paparan diatas

1. Konsep moderat sangat lambat, kapan besarnya jika harus nabung net profit?

Ini adalah pilihan brosist. Di tengah market yang cepat berubah, dan ekonomi yang labil, konsep ini aman. Urusan lambat atau tidak sebenarnya gak ditentukan disini. Banyak juga yang putarannya cepat dan memakai alur ini. Mereka besar dan survive.

Namun Andai mau cara cepat, ya silakan jika ada. Misalkan dengan financing ke berbagai pihak. Namun mazhab saya tidak kesitu.

2. Jika market tiba-tiba membesar permintaaannya dalam jumlah yang besar, sedangkan modal sedikit, bagaimana?

Di zaman yang canggih seperti ini, sebenarnya sangat banyak pemasok yang sanggup dibayar tempo. Yang penting penjualan Anda mengesankan.

Coba dimaknai lagi. Modal kerja itu kan untuk beli barang dagangan atau bahan baku, atau yang terkait dengan itu. Jika memang pengadaan barang tidak perlu modal? Jika pengadaan bahan baku bisa dibayar tempo? Maka tidak perlu khawatir dengan modal yang kecil.

Baca Juga:  Membeli Ketika Mampu, Bukan Ketika Mau

Yang jadi catatan nantinya adalah.. apakah kecepatan proses penjualan Anda mampu mengejar jatuh tempo pembayaran pemasok? Itu.

3. Ini boleh ngutang gak sih?
Ini pertanyaan berat.
Gini..

Kalo pun mau berhutang, catatan yang saya berikan adalah.. nilai hutang harus dibawah asset. Jadi selalu harus ada kolateral. Jika memang terjadi sendat putaran, anda tinggal jual asset.

Lalu, sebenarnya untuk memperbesar modal tidak selamanya harus dengan hutang. Sangat bisa dengan penyertaan modal. Jadi dana yang masuk bukan tercatat di liability, namun tercatat di equity.

Jika hutang ke Bank 1M, di aktiva – kas 1M, dan di Pasiva – beban hutang 1M.

Jika penyertaan modal 1M, di aktiva – kas 1M, dan di pasiva – equity 1M

Bingung gak?

4. Berapa persen sebaiknya besaran living cost?
Tidak ada patokan sama sekali. Karena living cost itu sebenarnya mengikuti life style. Saran dari banyak guru, senaik apapun bisnis, jagalah life style, maka living cost akan terjaga. Jadi simplicity saja. Tidak penting kelihatan kaya, yang penting kaya beneran.

Saran saya, jika memang bisa melakukan fiksasi biaya hidup dari operational budget, itu lebih baik. Sehingga yang kita prioritaskan membesar adalah bisnisnya.

Dahulukan memperbaiki mesin ketimbang membaguskan mobil. Kecuali mobil bagus dibutuhkan untuk nego penjualan, beda cerita.

Dahulukan menghadirkan SDM yang canggih ketimbang beli2 perhiasan. Gitu sih menurut saya. Hanya pendapat.

5. Ada gak sih yang melakukan ini?
Semoga Anda menemukan sosok sosok nya.

***

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness