Suatu hari Imam Ahmad Bin Hanbal pergi ke suatu daerah di Mesir.

Entah apa yang membuatnya melakukan perjalanan panjang kesana. Hingga akhirnya dia singgah ke sebuah masjid, tapi dia diusir.

Setelah mendapatkan peristiwa pengusiran itu, ada seorang penjual roti yang mengajak singgah ke tempatnya.

Di sebuah kedai roti itu sang imam memperhatikan penjual roti, ketika dia mengaduk adonan mulutnya selalu beristighfar.

Bahkan ketika dia mencetak adonan, hingga setiap proses pembuatan roti, mulutnya tak berhenti beristighfar.

Imam ahmad pun penasaran menyaksikan itu semua, “Kenapa kamu selalu beristighfar setiap kali mengaduk adonan?”

Pertanyaan ini bukan berarti imam Ahmad gak tahu fadhilah istighfar.

“Setiap kali beristighfar, Allah selalu mengabulkan permohonanku.” Jawab penjual roti.

“Tapi, ada satu hal yang belum dijawab Allah dari doaku.”

“Apa itu?” Tanya imam Ahmad.

“Aku ingin sekali bertemu dengan imam Ahmad Bin Hanbal.”

Imam Ahmad tersentak mendengarnya.

“Kalo begitu istighfarmu lah yang membuatku datang kesini. Akulah imam Ahmad Bin Hanbal.”

Betapa senangnya sang penjual roti, ternyata Allah telah menjawab do’anya.