Sanggar Kata ~ Cerpen Islami | Dari awal aku injakkan kaki di teras masjid aku sudah curiga dengan orang itu. Peci putih yang terpasang di kepalanya aku kira hanya modus saja. Kupandangi gerak geriknya dari jauh, kelihatannya memang sangat mencurigakan. Sudahlah aku coba husnuzdon saja. Kita lihat saja nanti setelah selesai sholat.

Aku sholat sendiri, karena jamaah yang lain sudah selesai dari tadi. Perut yang berdemo minta diisi, aku turuti lebih dulu. Biar sholatnya khusu’. Begitu kata pak ustadz. Tapi aku benar-benar tak bisa khusu’. Pikiranku tak tenang. Sampai selesai salam, tanpa dzikir apapun aku langsung beranjak keluar masjid. Ternyata benar dugaanku.

“Kemana sepatuku?” Kuedarkan pandangan disekeliling tangga masjid, tak kutemukan. Kulihat ke kanan dan ke kiri pun tak ada. Padahal baru seminggu yang lalu aku beli dengan harga yang mahal. Aku melihat kakek berpeci putih itu sedang duduk di bawah menara. Bajunya lusuh. Di tangannya terdapat mushaf hijau yang coba ia raba dengan kacamatanya. Hatiku yakin dia yang mengambilnya. Aku hampiri dia.

“Hey pak tua! Kau kemanakan sepatuku?! Tadi sebelum aku sholat kulihat kau mengambilnya.” Pak tua itu gelagapan. Tak salah lagi. Ternyata firasatku benar.

“Kau pasti telah mengambilnya! Cepat katakan dimana kau sembunyikan!”

“Jaga omonganmu anak muda! jangan sembarangan kau bicara. Aku tak seperti yang kau pikirkan!”

“Ternyata kau benar telah mencurinya. Dasar orang tua bau tanah!” Aku memotong bicaranya.

“Dengarkan dulu!” bentaknya tak terima. “Coba kau lihat baik-baik di rak sepatu disana! Jangan asal menuduh orang yang bukan-bukan!” telunjuknya memberi isayarat.
Kulihat rak itu. Benar saja sepatuku duduk manis disana. Aku kembali menghampiri orang itu.

Baca Juga:  Sepuluh Jari Arminaven~Season 2

“Ambil itu pak tua!” kulempari dia uang dua ribu perak.

“Apa maksudmu?”

“Bukankah kau menyimpan sepatuku agar kau mendapatkan itu.”

“Astaghfirullahal adzim. Aku tak butuh uangmu.” Dia mengelus dada.

“Terima kasih pak tua.”

Bersama kekesalan Aku pergi meninggalkannya.

“Dasar orang tua tak berguna.”

Di kota besar seperti ini memang banyak modus orang-orang untuk mencari uang. Bahkan tempat ibadah pun dijadikan ladang untuk uang. Mulai dari toilet sampai parkir semuanya ditarget untuk mengisi pundi-pundi uang. Belum lagi yang minta-minta di pinggir jalan dengan dalih pembangunan masjid. Bukankah jika ada orang kaya yang sadar membangunkan masjid itu lebih bagus, tanpa harus meminta-minta. Bukankah itu lebih baik?

Di dekat tempat baruku bekerja cuma ada satu masjid agung, Masjid Baitul Ihsan. Rasanya aku ingin kembali sholat disana. Mungkin nanti saja pas sholat jumat, karena kalau hari-hari biasa aku lebih memilih mushola kecil di kantor. Itu pun jika ingat.

Aku duduk di bawah menara, kulepas sepatu. Tak sengaja kulihat mushaf hijau. Aku jadi teringat orang berkaca mata itu. Aku tersenyum mengenangnya. Orang yang seenaknya mengambil sepatu orang lain. Kenapa begitu banyak orang yang terlihat baik padahal perbuatannya jelek. Adzan pertama berkumandang, aku beranjak masuk.
Selepas sholat jumat aku langsung keluar tanpa menghiraukan pengumuman untuk kesediaan sholat jenazah. Lalu kulihat sepatuku tidak ada. Wah kacau nih. Jangan-jangan diambil pak tua itu lagi. Kulihat di rak, tidak ada. Dengan muka merah aku beranjak menuju menara.

“Sepertinya dia masih di dalam masjid ikut menyolatkan jenazah.” Batinku. Sebaiknya aku tunggu saja sebentar. Atau mungkin dia sudah pulang? Ah, Tapi tidak mungkin secepat itu dia pulang. Aku coba bertanya pada tukang parkir.

Baca Juga:  Dia Pergi Bersama Pelangi

“Mas, emang siapa yang meninggal mas? Ko rame sekali yang nyolatin?”

“Pak Haji Ihsan mas. Beliau itu seorang pengusaha sukses yang mewakafkan diri dan hartanya untuk membangun masjid ini.”

“Oh gitu ya. Mulia sekali ya beliau. Ngomong-ngomong mas tahu gak kemana bapak tua yang suka baca Al Quran di bawah menara itu?”

“Bapak tua yang mana ya?”

“Itu loh yang pake kacamata, yang suka merapihkan sepatu dan sandal disini.”

“Oh, beliau itu lah Haji Ihsan.”

“Apa?!”

“Beberapa hari yang lalu ada seseorang yang membentak dan menghina beliau sehingga penyakit jantungnya kambuh. Tiga hari dia koma di rumah sakit, sampai akhirnya meninggal.”

“Jadi Bapak tua itu?”

Langit siang itu seakan runtuh. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Ternyata keranda yang berlalu dihadapanku adalah orang mulia. Aku berlari dalam deraian air mata penyesalan. Sungguh kebodohan dan kecongkakanku telah menorehkan luka. Kata-kataku yang telah terucap tak mungkin dicabut kembali. Diatas nisan aku menyesal. Maafkan aku Pak tua. Maafkan aku. Dan semuanya sudah terlambat.

Jakarta, September 2015